Instagram

@indahetika19

Rabu, 26 Desember 2018

Salahkah Bunda Bekerja?

Desember 26, 2018 0 Comments
Ana (red:aku) sedih Umi kadang lama pulangnya, kadang capek, kasihan. Kadang-kadang ana jarang bermain dengan Umi karena umi ana banyak tugas. Kadang masakin kesukaan ana. Ana sayang dengan umi ana, bisa cerita dengan umi ana. Ana pingin umi ana selalu di sisi ana, bermain dengannya. Semoga keluarga ana masuk surga semua.

Tulisan di atas saya kutip dari selembar kertas origami merah milik salah seorang siswa. Tahun ajaran yang lalu saya pernah meminta siswa di kelas untuk menuliskan isi hati mereka untuk bunda tanpa harus mencantumkan nama si pemilik kertas. Beragam ekpresi saya temukan dari tulisan-tulisan mereka. Ya namanya juga anak-anak, pasti mereka akan menulis apa adanya sesuai yang mereka rasakan. Kebanyakan isinya adalah curhatan bahwa mereka sangat sayang pada bundanya. Tapi yang satu ini berbeda dari yang lain.

Jujur. Pertama kali membaca tulisan anak ini, saya sangat prihatin dan merasa kesal dengan sang bunda. Ini emaknya apa nggak kasihan sama anak? Jangan cari duit mulu, anak juga butuh perhatian. Kira-kira begitulah yang saya pikirkan. Saya sempat lupa bahwa saya juga akan jadi seorang ibu. Dan kemungkinan besar juga akan jadi ibu bekerja seperti Ummi nya si anak ini.

Memang dari tulisannya kita bisa tahu bahwa si anak sangat sedih dengan situasi yang ada. Bundanya yang pulang lama bahkan mungkin ketika ananda sudah tertidur. Atau mungkin juga pulang menemui ananda dalam kondisi lelah, belum lagi tugas yang terpaksa turut dibawa ke rumah. Yang seperti ini tentulah membuat ananda hanya mendapat sisa-sisanya saja. Sisa waktu dan sisa tenaga.


Lantas salahkah bunda bekerja?

Perihal salah atau benar saya kira tidaklah salah apabila bunda harus bekerja di luar rumah. Apalagi dengan tuntutan kebutuhan hidup di zaman sekarang yang memaksa bunda turut serta mencari pemenuhannya. Bilapun ada alasan lain selain tuntutan ekonomi pastilah itu hal yang sangat prinsip bagi bunda. Yang jelas apapun alasannya, tidak akan jadi masalah asalkan tanggung jawab sebagai seorang ibu sudah dipenuhi.

Bunda harus bagaimana?

Saya pernah memiliki beberapa siswa yang bundanya juga punya banyak kesibukan di luar rumah. Tidak semuanya mengeluh dan menunjukkan ketidaksukaannya akan pekerjaan sang bunda. Beberapa anak justru terlihat sangat menerima kondisi bundanya.

Ketika ditanya "sedih nggak kalau bunda kerja terus?" Mereka menjawab dengan santai bahwa mereka tidak apa-apa.
"Bunda kan kerja untuk ana juga, bu. Karena bunda sayang sama ana."
"Kerja bunda juga ibadah, bu. Gitu kata bunda."

Perbedaan sangat terasa jika dibandingkan dengan kutipan tulisan di awal. Dari sini saya pikir karena perbedaan pemahaman yang diberikan sang bunda kepada anak. Apabila anak diberi pemahaman yang baik tentang pekerjaan bunda, besar peluang mereka akan lebih legowo dengan situasi yang ada. Tentunya butuh proses panjang untuk menanamkan pemahaman itu, tidak cukup satu dua kali. Jangan lupa juga apresiasi untuk setiap pengertian mereka karena sesungguhnya tidak mudah bagi mereka mengikhlaskan ketika bunda jauh dari mereka.

Wallahu'alam...
Saya hanya menulis berdasarkan apa yang saya amati dan terjadi pada siswa saya ya bunda. Lebih dari itu  bunda-bunda yang luar biasa pastinya lebih paham daripada saya.  Pada dasarnya saya juga sedang belajar untuk menjadi seorang ibu yang baik untuk anak-anak saya kelak. Semoga keluarga kita selalu diberi keberkahan... Amin..

Boleh saling share juga bun, bagaimana cara menghadapi dilema bunda bekerja ^.^

Rabu, 19 Desember 2018

Single Parent ?

Desember 19, 2018 2 Comments

"Kenapa ayah dan bunda kamu pisah?"

Rasanya pertanyaan ini ingin sekali saya tanyakan kepada salah seorang siswa saya di kelas sejak tahu bahwa ayah dan bundanya tidak lagi bersama. Tapi menanyakan hal itu sama saja membuka lukanya kembali, ya kan? Untuk anak seusia Ali saya benar-benar tidak tega. Eh, di sini kita sebut saja nama si anak ini Ali yaa.. 

Oke baiklah, saya ceritakan dulu bagaimana sosok Ali. 

Ia siswa kelas lima SD. Dalam pergaulan dengan teman seusianya ia sama seperti anak-anak yang lain. Ada kalanya sangat menyenangkan dan sesekali juga menjahili teman-temannya. Normal lah seperti siswa saya yang lain. Tidak seperti anak-anak brokenhome yang ada di sinetron-sinetron yang selalu berulah dan urak-urakan.

Adabnya terhadap guru juga baik. Justru saya merasa dialah yang paling perhatian kepada saya dibanding siswa yang lain. Kalau tentang ibadahnya, masya Allah... membuat kagum. Saat tidak sedang di sekolah, Ali selalu menunaikan shalat di masjid. Saya mengetahui ini dari cerita-ceritanya yang sering berlatarkan masjid,  "waktu Ali shalat maghrib di masjid bu...", "habis Isya di masjid Ali main...." dan banyak lagi, bahkan subuh pun di masjid. Selain itu, Ali juga tidak pernah alpa untuk shalat tahajud. Ini terlihat dari lembar mutabaah ibadah harian siswa yang diisinya dan tentunya sudah saya konfirmasi pada bundanya. Luar byaaassaaaah.....

Akhlaknya inilah yang membuat saya penasaran apa yang menyebabkan ayah dan bundanya berpisah. Apakah alasannya sangat bisa diterima oleh anak-anak? Dan yang membuat lebih penasaran adalah bagaimana cara sang bunda mendidik anak-anaknya. Yang saya tahu Ali punya tiga orang kakak yang kesemuanya sedang sekolah di luar kota bahkan ada yang sekolah di salah satu pesantren ternama.

Alhamdulillah jalan dari Allah. Saya dipertemukan dengan bundanya Ali sehari sebelum penerimaan rapor semester. 

Saya tidak bertanya apapun tentang masalah pribadi keluarga beliau. Nggak enak juga kan yaa... Kami hanya saling share tentang perkembangan Ali di rumah maupun di sekolah. Sampai akhirnya bunda Ali menceritakan semuanya kepada saya.

Perceraian itu terjadi saat Ali kelas tiga. Berawal dari pernikahan yang tidak direstui oleh pihak keluarga ayahnya Ali. Awalnya ayah dan bunda Ali merasa pernikahan mereka akan bertahan karena mereka sudah dikaruniai empat orang anak di tengah cobaan rumah tangga yang amat sangat. 

Namun yaaa apa daya. Perasaan sakit hati yang menahun karena mertua mengupayakan segala hal untuk meruntuhkan rumah tangganya membuat bunda Ali tak tahan. Ditambah lagi tidak ada pembelaan dari suami. Setelah proses diskusi dengan keempat anak mereka akhirnya keputusan berpisah sudah bulat. Mungkin melalui diskusi inilah anak-anak mereka bisa paham dan menerima kondisinya. 

Setelah berpisah, komunikasi anak-anak dengan sang ayah Alhamdulillah tidak terputus. Yaa...meskipun ayahnya tidak pernah memberi nafkah lahir untuk mereka.

Sosok bunda Ali benar-benar  membuat saya kagum. Seorang diri membesarkan empat orang anaknya. Anak yang pertama sekarang sedang melanjutkan kuliah pasca sarjana di luar kota. Dengan mawas diri si sulung berusaha membiayai hidupnya sendiri di sana. Hanya sesekali jika kepepet barulah meminta bantuan bunda. Anak nomor dua dan tiga sedang sekolah di pesantren luar kota, yang menurut saya pesantren ternama dan didambakan oleh anak-anak lainnya. Sedangkan si bungsu adalah Ali, si pencinta shalat malam.

Ali juga rutin puasa sunnah senin-kamis. Di hari lain Ali tidak membawa banyak uang jajan. Awalnya saya kira karena bundanya membatasi uang jajannya. Lama kelamaan saya mengetahui ternyata keinginan akan uang jajan yang sedikit itu memang dari Ali sendiri. Bundanya memberi Ali uang jajan 10 ribu. Di sini uang segitu sudah cukup banyak untuk anak SD kelas 5, menurut saya. Ali hanya membawa dua ribu perak untuk jajannya, kemudian selebihnya ditabung untuk kebutuhannya di masa depan.

Allah... Bagaimana anak kelas lima bisa berpikir begitu dewasa?

Bunda Ali merasa terlalu keras dalam mendidik anak perihal ibadah. Belum boleh nonton kalau belum tilawah sekian lembar. Tidak boleh main game sebelum setoran hafalan.

"Saya merasa terlalu keras sama Ali, bu Indah...""Kalau nilai akademik sih tidak terlalu saya permasalahkan, tapi kalau ibadahnya mulai  kendor itu benar-benar saya tekan si Ali""Kadang saya merasa bersalah sama Ali, jadi saya peluk dia, saya bilang jadi anak soleh ya naak..."

Bundanya merasa bersalah. Tidak bun.. Insya Allah sudah benar apa yang dilakukan. Karena ibadah ananda adalah bekal dunia dan akhirat, baik untuk bunda maupun si anak sendiri.

Masya Allah... cerita bunda Ali siang itu benar-benar memotivasi saya sebagai calon ibu. Didikan tegas, disiplin akan tetapi penuh kasih sayang. Pembentukan karakter anak memang harus dimulai sedini mungkin. Dengan pembiasaan kegiatan positif sejak kecil dan tentunya jadikan diri kita teladan baik untuk mereka.

Bahkan seorang single parent pun bisa mendidik anak-anaknya dengan luar biasa. Bagaimana dengan kita?

(Sekali lagi pemirsah.. Ali bukan nama asli si anak yaa.. jadi insya Allah kita tidak sedang membuka aib saudara kita. Wallahu 'alam...) 😃😃

Minggu, 25 November 2018

Punya siswa nakal ?

November 25, 2018 0 Comments

"Dia itu nakal banget bu..."

Salah seorang siswa di kelas saya melabeli temannya dengan sebutan "nakal", diiringi pembenaran oleh teman-temannya yang lain.

Hampir seluruh siswa di kelas tidak suka dengan perilaku Dodo. Di mata teman-temannya Dodo sangat menyebalkan, suka mengganggu dan tidak sopan. Mungkin itu yang membuat ia tak punya teman dekat.

Saya pun sebagai guru awalnya sangat sebal melihat perilaku anak yang satu ini. Saya berusaha tidak ikut-ikutan melabelinya sebagai siswa nakal.

Pernah suatu ketika ia mengganggu siswa yang sedang bermain.

"Aku gak bakal ganggu lagi asalkan harus ada satu orang yang aku pukul," ujarnya.

Arrghh.. Kesabaran saya sangat diuji saat itu. Saya mencoba dengan lembut untuk memintanya berhenti mengganggu. Akan tetapi sia-sia. 

Namun ada satu hal yang unik darinya. Meskipun Dodo selalu mengganggu temannya ketika di kelas, bahkan sampai ditegur oleh saya berkali-kali. Tapi setiap jam pulang sekolah, ketika teman-temannya sudah tidak di kelas, Dodo selalu membantu saya merapikan kelas, serta bertukar cerita dengan saya. Ia seperti sosok berbeda saat tidak ada teman-temannya yang lain.

Setelah satu tahun membersamai Dodo, pada dasarnya saya perhatikan ia anak yang sangat sopan serta perhatian. Hanya saja ada sisi lain dari dirinya yang ingin jadi pusat perhatian dan jadi sorotan. Saya rasa ini bisa jadi potensi baik asal selalu diarahkan. 

Dari cerita Dodo kita sama-sama belajar bahwa kadang kita hanya melihat dari satu sudut pandang tanpa melihat kelebihan yang ada pada diri anak. Mungkin anak berulah karna ia ingin diperhatikan atau karena hal lain. Mungkin anak-anak seperti Dodo akan jadi orang-orang berpengaruh nantinya.

Sebagai guru dan orangtua kita harus terus mengarahkan dan mendoakan serta terus belajar memperbaiki pribadi kita juga tentunya yang akan jadi teladan bagi mereka.

Wallahu'alam..

(Dodo bukan nama asli si anak ^,^)

Senin, 02 Juli 2018

Pakaian Syar'i Tapi Pecicilan?

Juli 02, 2018 1 Comments

Foto di atas bukan saya loh ya. Dia si bungsu yang luar byasaah. Sejak dia SD, saya di bom banyak pertanyaan tentang cara saya berpakaian. 

"Kakak kok sekarang pake rok terus?"
"Kok pake gamis lagi?"
"Kok kerudungnya gede banget?"
Dan kok kok yang lain...

Sebagai kakak tentunya ingin memberikan arahan yang terbaik untuk adiknya. Dan saya berusaha semampu saya memberikan pengertian untuk setiap pertanyaan si bungsu ini.

Di akhir kelas enam nih anak mulai ikut-ikutan pakai rok. Ya walaupun kadang-kadang jeansnya juga masih di pakai. Tapi saya yakin semua butuh proses. Toh dia juga masih anak SD yang memang harus selalu diberi arahan. 


Si bungsu pernah benar-benar dilema mengambil keputusan untuk perpakaian sesuai syariat yang sesungguhnya. Merasa belum pantas dan khawatir akan omongan orang nanti tentunya adalah perasaan yang manusiawi. Apalagi saya tahu betul si bungsu ini orang yang terlalu ceria, pecicilan lah istilahnya. Ketawa ngakak, sering main sama anak cowok, ngelawak sana-sini, ditambah foto-foto dan video di instagramnya dengan ekpresi menggelikan. 

"Nesa belum siap kak ke sekolah pakai jilbab panjang."

"Nanti pasti ada yang ngoceh kalo sudah syar'i tapi kelakuan nggak sesuai."

"Nesa takut nanti temen-temen bilang jilbabin mulutnya dulu."

"Tapi nesa bukan orang kalem kak."

Drama banget nih anak :-D 

Tapi saya ngerti kok. Dia masih kelas delapan waktu itu. Masa di mana anak seusianya berusaha jadi anak paling gahool dengan gaya yang bermacam-macam. 

Berpakaian sesuai syariat adalah kewajiban wanita muslim sama halnya dengan perintah sholat lima waktu. Sebagaimana firman Allah dalam surah Al-Ahzab ayat 59 yang artinya:

"Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin, "Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka." Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang." (Q.S Al-Ahzab : 59)

Jadi nggak perlu menunggu siap karena menutup aurat adalah kewajiban. Kalo nunggu siap, kapan siapnya? Nunggu malaikat maut juga siap-siap nyabut nyawa kita? Nggak kan?

Kalau masalah bagaimana omongan orang nanti, tutup telinga rapat-rapat, pura-pura budeglah. Karena kita kan nggak minta penilaian dari manusia, tapi kita mengharap ridhonya Allah, luruskan niat kita. Kalau si manusianya itu masih kekeuh mau menilai kita yaa disyukuri aja, anggap aja itu sarana memperbaiki diri. Kan biasanya manusia ahli dalam melihat kejelekan orang lain. Nah.. manfaatkan itu sebagai cambuk agar kita menjadi manusia yang lebih baik setiap harinya.

Terus kalau merasa akhlak kita masih jauh dari baik sehingga belum pantas berpakaian syar'i. Inilah saatnya kita memantaskan diri menjadi hamba Allah yang taat. Pakai pakaian syar'i nggak harus kalem. Karena kalem atau tidaknya seseorang bukan tolak ukur dia adalah hamba yang bertaqwa. Yang penting selalu berusaha melakukan yang sesuai tuntunan, berlakulah sesuai adabnya.

Ingat.. Hijrah untuk jadi manusia yang lebih baik itu prosesnya setiap hari, sampai ruh berpisah dari badan. Jangan merasa cukup karena sesungguhnya hanya Allah yang tahu amalan kita yang mana yang Ia terima. Dan jangan minder untuk berada di jalur yang benar.

Selasa, 26 Juni 2018

Yuk! Coba Mengkritik Diri

Juni 26, 2018 6 Comments
Aku perhatiin kamu berubah semenjak menikah.
Kritik adalah masalah penganalisaan dan pengevaluasian sesuatu dengan tujuan untuk meningkatkan pemahaman, memperluas apresiasi, atau membantu memperbaiki pekerjaan. (Wikipedia)

(source:dreamstime.com)
Bagi sebagian orang mungkin kritik adalah sesuatu yang ingin dihindari, begitu juga saya. Tapi tidak bisa dipungkiri bahwa jika ingin menjadi pribadi yang lebih baik, kita akan butuh kritikan yang membangun.

Pengalaman saya di awal menikah banyak dapat kritik dari teman dan sahabat mungkin bisa jadi bahan cerminan untuk kita semua.

Pernikahan jadi berita yang paling membahagiakan. Membuat saya ingin memposting segala hal tentang kehidupan setelah menikah yang benar-benar berbeda. Dengan segala kealay-an yang saya miliki, postingan instagram pun dipenuhi momen-momen romantis kami berdua #ciee. Mulai dari menyiapkan sarapan untuk suami, hangout bareng, ngedate, sampai liburan ke luar kota.

Awalnya niat saya sih supaya para jomblo di luar sana ketika lihat setiap postingan itu jadi makin semangat ikhtiar mencari sang jodoh. Tapi apa daya saya yang hanya manusia biasa ini, ternyata banyak hati yang terluka di luar sana 😢. Kekhilafan ini saya ketahui ketika salah satu sahabat chat pribadi ke saya.

Saya paham betul niatan baik sang sahabat yang ingin mengingatkan saya. Dengan bahasa yang lembut namun nyeess di hati, periih cuy, saya berusaha memahami dan berpikir positif. Mungkin penyakit yang selalu ingin umbar kebahagiaan ini harus segera diobati. Iyadeh gue salah.

Bersyukur Allah masih membukakan hati ini untuk menerima kritik pedas dari para sahabat. Ya meskipun lebih banyak ngomel di dalam hati tapi sebisa mungkin saya kembali menyadarkan diri. Terimakasih banyak deh buat kritiknya.

Sejak saat itu saya mulai mikir-mikir dulu sebelum posting di IG. Kira-kira ini layak gak ya? Ada faedahnya gak ya? Ada yang sakit hati gak ya? Posting apa enggak nih? Walopun kadang-kadang juga masih sering khilaf. 

Hingga suatu ketika saya dapat kabar gembira dari sang sahabat. Yeay.. berita pernikahan lagi. Sekali dua kali melihat kebahagiaan pasangan baru itu via sosmed membuat saya ikut senang. Tapi lama kelamaan kok eneg ya?

Emang sih beliau ini nggak umbar foto mesra. Tapi capture chat manis beserta segala caption dan  isi tulisannya yang aduhaaaii membuat saya berpikir "penting ya dunia harus tau hidup lo?", "emangnya lo doang yang punya suami?" , "emangnya dunia harus tau kalo lo lagi kangen sama tuh suami?".

Saya juga sempat mikir kalo nih orang cuma bisa kritik doang, tapi ketika dia yang mengalami sendiri bahagianya  menikah ternyata dia juga gak tahan buat mengumbar kemesraan. Sempat sebel banget sama dia yang luar biasa mengkritik saya dulu.

Tapi, Astaghfirullah...
Mungkin seperti inilah yang orang-orang pikir tentang postingan foto-foto saya dan suami dulu.  Mungkin mereka juga merasa postingan saya hanya spam yang membuat penuh beranda. Ternyata saya sudah menyakiti banyak hati. Merasa bersalah terutama pada si sahabat tadi.

Kecenderungan untuk berbagi kabar gembira memang manusiawi. Tapi akan lebih baik lagi jika kita lebih bijak dalam mengorganisir apa saja hal-hal yang perlu dibagikan. Pikirkan lagi apakah akan membawa banyak manfaat atau tidak.

Saya juga masih terus belajar agar lebih bijak menggunakan media sosial. Berusaha untuk menata hati agar tidak ada rasa hasad ketika melihat postingan kabar bahagia orang lain. Mencoba untuk mengkritik diri sendiri demi menjadi pribadi yang lebih baik.

Semoga bermanfaat....

Kamis, 18 Januari 2018

Cerita KITA

Januari 18, 2018 2 Comments

"Kok bisa sama dia? Gimana ceritanya?"

Sejak undangan pernikahan kami disebar, pertanyaan seperti ini berulang kali saya dengar dari mulut yang berbeda. Bahkan sampai hari ini pun kadang masih ada beberapa yang menanyai dengan pertanyaan yang sama.

Sebenarnya bukan mereka saja yang keheranan, saya pun kadang masih bertanya dalam hati bagaimana bisa saya yang dipilih oleh si abang. Ternyata Allah punya cara sendiri untuk mempersatukan kami.

Baiklah. Saya coba untuk menjawab pertanyaan tadi lewat tulisan ini. Tujuannya cuma satu, supaya para jomblo tau bahwa Allah sudah mempersiapkan kado yang indah untuk orang-orang yang bersabar.


Iya. Abang memang pernah jadi keinginan terbesar saya. Akan tetapi sempat saya coba hilangkan karena merasa tidak mungkin didapatkan. Bahkan dalam doa sekalipun saya tidak pernah berani mengucapkan namanya.

Ketika masih kuliah, abang di mata saya adalah sosok aktivis kampus yang luar biasa. Beliau pernah menjabat presiden BEM. Bukan cuma itu, abang juga sering jadi narasumber di beberapa acara kampus serta kadang jadi motivator levelan kampus. Yang paling membuat kagum adalah ketika saya tahu abang mulai launching buku pertama karyanya sendiri.

Sementara di sisi lain, saya hanya mahasiswa biasa yang sering "minggat" saat rapat organisasi. Bagai bumi dan langit memang. Jauh beda. Tapi sekali lagi, rahasia Allah memang tidak ada yang tahu.

Kuliah di fakultas yang sama membuat saya sering berpapasan dengan si doi. 

"Bang..", saya menyapa ringan.

"Ya..", sahut abang.

Dialog di atas adalah jenis komunikasi singkat sekedar basa-basi antara adik & kakak tingkat. Saya ingat jelas setiap kali si abang berlalu membuat saya senyum-senyum sendiri di belakangnya karena sapaan saya ditanggapi oleh idola.

Tahun-tahun akhir perkuliahan saya, sudah jelas abang tidak di kampus lagi. Beliau hanya sesekali berkunjung jika mengisi acara-acara tertentu. Kurangnya intensitas pertemuan tentulah membuat sosoknya perlahan menghilang dari kepala. Ditambah lagi kesibukan mahasiswa tingkat akhir dan hiruk-pikuk dunia mahasiswa "alay" seperti saya semakin membuat saya lupa bahwa pernah melirik si abang.

Lulus kuliah. Alhamdulillah saya diterima sebagai pengajar di salah satu sekolah islam terpadu di kota ini. Saya sebelumnya memang sudah tahu bahwa abang juga salah seorang tenaga pengajar di sini. Tapi saat itu niat saya benar-benar bukan karena ingin mengejar-ngejar beliau. Niat awal saya hanya satu, ingin mendapat lingkungan kerja yang baik, dan sekolah inilah tempatnya. Lagipula sepertinya saya sudah mulai lupa akan kekaguman yang pernah saya pendam.

Beberapa bulan berlalu sejak saya masuk sebagai pengajar, sepertinya pertemuan yang semakin sering membuat saya merasa biasa saja berpapasan dengannya. Tidak ada tegur sapa ataupun senyuman. Mungkin saya sudah capek "ngefans" sama abang. Ditambah lagi status yang sama-sama sebagai guru membuat abang semakin terlihat biasa saja di pandangan.

Pernah suatu ketika saya merasa benar-benar malas melihat abang. Saat beliau bercerita di depan siswa tentang cerita andalannya "Abu Nawas" , saya sempat berucap pada teman saya, "Dia lagi, dia lagi yang ngomong di depan." Suaranya juga terlalu lantang untuk saya yang duduk di dekat speaker. "Ngapain juga teriak-teriak", oceh saya saat itu.

Satu tahun saya menjadi guru di sekolah ini menumbuhkan kekaguman baru pada abang. Prestasi-prestasinya sebagai guru semakin banyak saya ketahui. Beliau juga guru yang disenangi banyak siswa. Bukan hanya guru biasa, abang juga merangkap sebagai humas sekolah ini.

Tanpa saya sadari saya mulai menghayalkan bagaimana jika menjadi pasangannya kelak. Astaghfirullah. Hal yang tidak seharusnya saya lakukan. Bukan saja karena abang bahkan tidak mengenal saya, tapi juga karena saya takut perasaan ini menjadi hina di mata Allah.

Saya mulai kembali menata hati. Memikirkan siswa-siswi saya saja sudah cukup membuat bahagia saat ini. Tidak perlu ditambah yang lain. 

Saya dan siswa suka membuat video-video yang berisi ajakan kebaikan. Dan ternyata video-video itu direspon positif oleh si abang lewat akun sosmed sekolah yang dia adalah adminnya. Tentulah saya senang bukan main. Akhirnya saya dikenal.

Usia 23 tahun. Saya merasa sudah siap menikah. Sudah waktunya mencari pendamping hidup. Saya mulai meminta bantuan teman-teman yang sudah menikah untuk mencarikan laki-laki yang cocok.

"Ndah, besok minta biodatanya ya", seorang teman membisikkan.

Dua minggu lebih sejak biodata saya berikan akhirnya ada kabar dari teman saya tadi.

"Ini biodata ikhwannya, istikharah dulu baru di buka ya"

Coba bayangkan bagaimana ekspresi saya ketika tahu bahwa isinya adalah biodata abang. Lebih dari bahagia. Tapi ya saya mencoba bersikap "waras".

Alhamdulillah semua proses dipermudah oleh Allah. Mulai dari taaruf, khitbah hingga akad.

Saya yang dulunya bukan siapa-siapa dan bahkan tidak dikenal sekarang jadi pendampingnya. Menemani suka duka abang. Menjadi pengobat letihnya. Melihat wajahnya sebelum dan saat bangun tidur. Ah. Allah memang tidak pernah ingkar janji.

                           وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ

“Dan, Allah mencintai orang-orang yang sabar”. [Ali Imran : 146]



Rabu, 03 Januari 2018

Via Selalu Sayang Papa, Walaupun Papa....

Januari 03, 2018 0 Comments
"Mama sama papa Via sekarang udah pisah, bu."

Dengan polosnya anak ini berbisik ke telinga saya. Senyum kecil menggemaskan di wajahnya masih jelas terlihat. Saya yang heran, bagaimana bisa Via sedari pagi ini bersikap seperti tidak ada masalah. Apakah karena baru berumur 10 tahun jadi dia belum mengerti? Atau memang karena dia begitu tegar?

Via memang anak yang periang. Selalu jadi moodmaker di kelas. Selama menjadi gurunya, saya belum pernah melihat wajah murung Via. Kulitnya putih, wajahnya mungil menggemaskan. Terkadang saya berfikir ingin menculiknya dan dijadikan mainan di rumah.

"Papa selingkuh, bu."
"Kata mama, dulu waktu Via masih bayi, papa juga pernah selingkuh. Jadinya mama nggak percaya lagi."

Via mencoba menceritakan kronologi perceraian orangtuanya dengan santai. Tapi melihat ke dalam matanya, saya tahu ada air mata tertahan di sana.

"Via nggak sedih? Ibu boleh tau nggak gimana perasaan Via sekarang?"

Via terdiam sejenak. Mungkin sedang memikirkan bagaimana dia harus mengutarakan isi hatinya.

"Mm.. Sedihlah bu," Via menunduk.

"Eh, jangan nangis dong. Sini ibu peluk."

Saya kira Via akan menangis dipelukan saya. Tetapi justru tawa kecilnya terdengar saat dalam dekapan saya.

"Kok Via ketawa?"

"Ibu sihh bilang Via nangis. Via kan nggak nangis. Malu kalau nangis di sekolah bu. Via kan nggak cengeng."

Anak ini masih bisa-bisanya bercanda. Dari mana dia temukan kekuatan sebesar ini?

"Jadi gimana rasa sayang Via ke papa? Masih sayang atau sudah berkurang?"

"Via masih sayang sekali sama papa, bu. Kan mama yang punya masalah sama papa, bukan Via. Jadi Via masih sayang papa."

Allah.. Hati saya bergetar mendengar jawaban anak ini. Bukannya Via, justru saya yang ingin menangis saat ini. 

"Walaupun mama sering bilang papa jahat. Tapi Via tetap sayang papa."

"Via pernah lihat mama sama papa berantem?" saya bertanya penasaran.

"Nggak, bu. Tapi sering dengar aja," lagi-lagi dia tertawa kecil.

"Jadi, sekarang gimana cara Via menghadapi masalah Via?" 

"Hmm.. Via berdoa sama Allah,bu. Supaya mama sama papa baikan lagi. Kan Allah Maha Mengabulkan," Via menjawab dengan senyuman manisnya.

"Jadi, Via minta tolongnya sama Allah ya nak?"

"Iya bu, kan nggak ada yang bisa nolong Via kalau bukan Allah."

Masya Allah... Jawaban yang luar biasa karena keluar dari lisan anak 10 tahun.


Bagaimana dia bisa begitu tulus mencintai ketika hatinya sudah terlukai oleh pengkhianatan sang ayah?
Bagaimana bisa kata sayang yang begitu dalam masih dia utarakan meski sang ibu tanpa sadar berusaha mewariskan kebencian?

Apa jadinya jika bukan Via? 
Apa yang terjadi pada anak-anak lain yang bernasib sama dengan Via?
Ketika sang ibu mulai bergerilya mengatakan hal-hal buruk tentang ayah. Mungkin mereka akan segera membenci ayahnya. 
Ketika petengkaran ayah dan ibu sudah menjadi konsumsi telinga anak-anak. Alangkah menderitanya batin mereka.

Wahai ayah dan bunda... 
Mungkin kita marah. Mungkin kita benci. Mungkin kita begitu kecewa. Tetapi ingatlah, ada hati yang harus kita jaga. Hati si kecil yang rapuh. Mereka belum paham, tetapi terpaksa paham. 

Rasa cinta suami istri mungkin bisa hilang.
Setiap pasangan bisa saja berpisah dan berujung cerai.
Namun tidak ada yang bisa memutus hubungan antara orang tua dan anak. Kita tidak berhak merusaknya. Karenanya, biarkan kenangan indah yang dimiliki anak-anak tentang ayah dan bundanya tetap tersimpan di benak mereka.

                                                                                                                    (cerita di awal Maret 2017)
*nama disamarkan