Instagram

@indahetika19

Jumat, 03 November 2023

Augmented Reality (AR) dalam Pembelajaran Matematika

November 03, 2023 0 Comments

             Perkembangan teknologi untuk memudahkan proses pendidikan semakin meningkat. Salah satu teknologi yang kekinian dan sangat menunjang pembelajaran adalah teknologi Augmented Reality (AR). Kecanggihan ini mampu memberikan warna baru di bidang pendidikan. Penggunaannya tidak hanya berpusat pada wawasan, tapi juga menyentuh sisi emosional siswa. Pengalaman yang dirasakan merangsang otak mereka untuk meyerap ilmu lebih progresif.


Berikut contoh penggunaan AR dalam pembelajaran Matematika:



Kamis, 26 Oktober 2023

Virtual Reality dalam Pembelajaran

Oktober 26, 2023 0 Comments

Virtual Reality (VR) memberikan pengalaman belajar yang lebih realistis dan interaktif, yang dapat membantu siswa memahami konsep pembelajaran dengan lebih baik. Dalam konteks pendidikan, VR memiliki potensi besar untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran, terutama dalam hal pengalaman praktis dan keterlibatan siswa.

Untuk mengetahui penggunaan VR dalam pembelajaran matematika, simak video beriku



Kamis, 19 Oktober 2023

Pemanfaatan Artificial Intelligence dalam Pembelajaran Matematika

Oktober 19, 2023 0 Comments

 Teknologi (Artificial Intelligence) AI atau kecerdasan buatan  mengalami perkembangan yang masif dari tahun ke tahun. Kehadirannya dengan fitur, fungsi, dan tampilan yang baru semakin berdampak pada banyak aspek kehidupan manusia tidak terkecuali dalam pendidikan (Luger dan Stubblefield, 1993). Kecerdasan buatan mulai mengambil peran dalam kegiatan pembelajaran di sekolah maupun perguruan tinggi (Mulianingsih, dkk. 2020). kecerdasan buatan menjadi bagian primer dalam tumbuh kembang teknologi pendidikan. Hal ini tentu memberikan implikasi secara eksplisit terhadap kehidupan kerja manusia di masa depan.

Bila kita berbicara teknologi pendidikan, kita harus fair mengatakan bahwa belum sepenuhnya teknologi ini digunakan dalam pembelajaran. di era sekarang yang semakin kompetitif, masih terdapat lembaga pendidikan yang belum menerapkan teknologi dalam kegiatan belajar mengajar. Seyogyanya, sekolah di era sekarang harus memanfaatkan lahirnya teknologi-teknologi yang memudahkan pekerjaan guru ataupun siswa (Tjahyanti, dkk. 2022). sekolah bisa memanfaatkan aplikasi atau media yang dapat mengotomatiskan tugas-tugas seperti memberikan umpan balik, memilih materi pembelajaran yang sesuai, maupun menyelaraskan kurikulum dengan kebutuhan siswa.

Untuk lebih jelasnya, simak video berikut:



Rabu, 26 Desember 2018

Salahkah Bunda Bekerja?

Desember 26, 2018 0 Comments
Ana (red:aku) sedih Umi kadang lama pulangnya, kadang capek, kasihan. Kadang-kadang ana jarang bermain dengan Umi karena umi ana banyak tugas. Kadang masakin kesukaan ana. Ana sayang dengan umi ana, bisa cerita dengan umi ana. Ana pingin umi ana selalu di sisi ana, bermain dengannya. Semoga keluarga ana masuk surga semua.

Tulisan di atas saya kutip dari selembar kertas origami merah milik salah seorang siswa. Tahun ajaran yang lalu saya pernah meminta siswa di kelas untuk menuliskan isi hati mereka untuk bunda tanpa harus mencantumkan nama si pemilik kertas. Beragam ekpresi saya temukan dari tulisan-tulisan mereka. Ya namanya juga anak-anak, pasti mereka akan menulis apa adanya sesuai yang mereka rasakan. Kebanyakan isinya adalah curhatan bahwa mereka sangat sayang pada bundanya. Tapi yang satu ini berbeda dari yang lain.

Jujur. Pertama kali membaca tulisan anak ini, saya sangat prihatin dan merasa kesal dengan sang bunda. Ini emaknya apa nggak kasihan sama anak? Jangan cari duit mulu, anak juga butuh perhatian. Kira-kira begitulah yang saya pikirkan. Saya sempat lupa bahwa saya juga akan jadi seorang ibu. Dan kemungkinan besar juga akan jadi ibu bekerja seperti Ummi nya si anak ini.

Memang dari tulisannya kita bisa tahu bahwa si anak sangat sedih dengan situasi yang ada. Bundanya yang pulang lama bahkan mungkin ketika ananda sudah tertidur. Atau mungkin juga pulang menemui ananda dalam kondisi lelah, belum lagi tugas yang terpaksa turut dibawa ke rumah. Yang seperti ini tentulah membuat ananda hanya mendapat sisa-sisanya saja. Sisa waktu dan sisa tenaga.


Lantas salahkah bunda bekerja?

Perihal salah atau benar saya kira tidaklah salah apabila bunda harus bekerja di luar rumah. Apalagi dengan tuntutan kebutuhan hidup di zaman sekarang yang memaksa bunda turut serta mencari pemenuhannya. Bilapun ada alasan lain selain tuntutan ekonomi pastilah itu hal yang sangat prinsip bagi bunda. Yang jelas apapun alasannya, tidak akan jadi masalah asalkan tanggung jawab sebagai seorang ibu sudah dipenuhi.

Bunda harus bagaimana?

Saya pernah memiliki beberapa siswa yang bundanya juga punya banyak kesibukan di luar rumah. Tidak semuanya mengeluh dan menunjukkan ketidaksukaannya akan pekerjaan sang bunda. Beberapa anak justru terlihat sangat menerima kondisi bundanya.

Ketika ditanya "sedih nggak kalau bunda kerja terus?" Mereka menjawab dengan santai bahwa mereka tidak apa-apa.
"Bunda kan kerja untuk ana juga, bu. Karena bunda sayang sama ana."
"Kerja bunda juga ibadah, bu. Gitu kata bunda."

Perbedaan sangat terasa jika dibandingkan dengan kutipan tulisan di awal. Dari sini saya pikir karena perbedaan pemahaman yang diberikan sang bunda kepada anak. Apabila anak diberi pemahaman yang baik tentang pekerjaan bunda, besar peluang mereka akan lebih legowo dengan situasi yang ada. Tentunya butuh proses panjang untuk menanamkan pemahaman itu, tidak cukup satu dua kali. Jangan lupa juga apresiasi untuk setiap pengertian mereka karena sesungguhnya tidak mudah bagi mereka mengikhlaskan ketika bunda jauh dari mereka.

Wallahu'alam...
Saya hanya menulis berdasarkan apa yang saya amati dan terjadi pada siswa saya ya bunda. Lebih dari itu  bunda-bunda yang luar biasa pastinya lebih paham daripada saya.  Pada dasarnya saya juga sedang belajar untuk menjadi seorang ibu yang baik untuk anak-anak saya kelak. Semoga keluarga kita selalu diberi keberkahan... Amin..

Boleh saling share juga bun, bagaimana cara menghadapi dilema bunda bekerja ^.^

Rabu, 19 Desember 2018

Single Parent ?

Desember 19, 2018 2 Comments

"Kenapa ayah dan bunda kamu pisah?"

Rasanya pertanyaan ini ingin sekali saya tanyakan kepada salah seorang siswa saya di kelas sejak tahu bahwa ayah dan bundanya tidak lagi bersama. Tapi menanyakan hal itu sama saja membuka lukanya kembali, ya kan? Untuk anak seusia Ali saya benar-benar tidak tega. Eh, di sini kita sebut saja nama si anak ini Ali yaa.. 

Oke baiklah, saya ceritakan dulu bagaimana sosok Ali. 

Ia siswa kelas lima SD. Dalam pergaulan dengan teman seusianya ia sama seperti anak-anak yang lain. Ada kalanya sangat menyenangkan dan sesekali juga menjahili teman-temannya. Normal lah seperti siswa saya yang lain. Tidak seperti anak-anak brokenhome yang ada di sinetron-sinetron yang selalu berulah dan urak-urakan.

Adabnya terhadap guru juga baik. Justru saya merasa dialah yang paling perhatian kepada saya dibanding siswa yang lain. Kalau tentang ibadahnya, masya Allah... membuat kagum. Saat tidak sedang di sekolah, Ali selalu menunaikan shalat di masjid. Saya mengetahui ini dari cerita-ceritanya yang sering berlatarkan masjid,  "waktu Ali shalat maghrib di masjid bu...", "habis Isya di masjid Ali main...." dan banyak lagi, bahkan subuh pun di masjid. Selain itu, Ali juga tidak pernah alpa untuk shalat tahajud. Ini terlihat dari lembar mutabaah ibadah harian siswa yang diisinya dan tentunya sudah saya konfirmasi pada bundanya. Luar byaaassaaaah.....

Akhlaknya inilah yang membuat saya penasaran apa yang menyebabkan ayah dan bundanya berpisah. Apakah alasannya sangat bisa diterima oleh anak-anak? Dan yang membuat lebih penasaran adalah bagaimana cara sang bunda mendidik anak-anaknya. Yang saya tahu Ali punya tiga orang kakak yang kesemuanya sedang sekolah di luar kota bahkan ada yang sekolah di salah satu pesantren ternama.

Alhamdulillah jalan dari Allah. Saya dipertemukan dengan bundanya Ali sehari sebelum penerimaan rapor semester. 

Saya tidak bertanya apapun tentang masalah pribadi keluarga beliau. Nggak enak juga kan yaa... Kami hanya saling share tentang perkembangan Ali di rumah maupun di sekolah. Sampai akhirnya bunda Ali menceritakan semuanya kepada saya.

Perceraian itu terjadi saat Ali kelas tiga. Berawal dari pernikahan yang tidak direstui oleh pihak keluarga ayahnya Ali. Awalnya ayah dan bunda Ali merasa pernikahan mereka akan bertahan karena mereka sudah dikaruniai empat orang anak di tengah cobaan rumah tangga yang amat sangat. 

Namun yaaa apa daya. Perasaan sakit hati yang menahun karena mertua mengupayakan segala hal untuk meruntuhkan rumah tangganya membuat bunda Ali tak tahan. Ditambah lagi tidak ada pembelaan dari suami. Setelah proses diskusi dengan keempat anak mereka akhirnya keputusan berpisah sudah bulat. Mungkin melalui diskusi inilah anak-anak mereka bisa paham dan menerima kondisinya. 

Setelah berpisah, komunikasi anak-anak dengan sang ayah Alhamdulillah tidak terputus. Yaa...meskipun ayahnya tidak pernah memberi nafkah lahir untuk mereka.

Sosok bunda Ali benar-benar  membuat saya kagum. Seorang diri membesarkan empat orang anaknya. Anak yang pertama sekarang sedang melanjutkan kuliah pasca sarjana di luar kota. Dengan mawas diri si sulung berusaha membiayai hidupnya sendiri di sana. Hanya sesekali jika kepepet barulah meminta bantuan bunda. Anak nomor dua dan tiga sedang sekolah di pesantren luar kota, yang menurut saya pesantren ternama dan didambakan oleh anak-anak lainnya. Sedangkan si bungsu adalah Ali, si pencinta shalat malam.

Ali juga rutin puasa sunnah senin-kamis. Di hari lain Ali tidak membawa banyak uang jajan. Awalnya saya kira karena bundanya membatasi uang jajannya. Lama kelamaan saya mengetahui ternyata keinginan akan uang jajan yang sedikit itu memang dari Ali sendiri. Bundanya memberi Ali uang jajan 10 ribu. Di sini uang segitu sudah cukup banyak untuk anak SD kelas 5, menurut saya. Ali hanya membawa dua ribu perak untuk jajannya, kemudian selebihnya ditabung untuk kebutuhannya di masa depan.

Allah... Bagaimana anak kelas lima bisa berpikir begitu dewasa?

Bunda Ali merasa terlalu keras dalam mendidik anak perihal ibadah. Belum boleh nonton kalau belum tilawah sekian lembar. Tidak boleh main game sebelum setoran hafalan.

"Saya merasa terlalu keras sama Ali, bu Indah...""Kalau nilai akademik sih tidak terlalu saya permasalahkan, tapi kalau ibadahnya mulai  kendor itu benar-benar saya tekan si Ali""Kadang saya merasa bersalah sama Ali, jadi saya peluk dia, saya bilang jadi anak soleh ya naak..."

Bundanya merasa bersalah. Tidak bun.. Insya Allah sudah benar apa yang dilakukan. Karena ibadah ananda adalah bekal dunia dan akhirat, baik untuk bunda maupun si anak sendiri.

Masya Allah... cerita bunda Ali siang itu benar-benar memotivasi saya sebagai calon ibu. Didikan tegas, disiplin akan tetapi penuh kasih sayang. Pembentukan karakter anak memang harus dimulai sedini mungkin. Dengan pembiasaan kegiatan positif sejak kecil dan tentunya jadikan diri kita teladan baik untuk mereka.

Bahkan seorang single parent pun bisa mendidik anak-anaknya dengan luar biasa. Bagaimana dengan kita?

(Sekali lagi pemirsah.. Ali bukan nama asli si anak yaa.. jadi insya Allah kita tidak sedang membuka aib saudara kita. Wallahu 'alam...) 😃😃

Minggu, 25 November 2018

Punya siswa nakal ?

November 25, 2018 0 Comments

"Dia itu nakal banget bu..."

Salah seorang siswa di kelas saya melabeli temannya dengan sebutan "nakal", diiringi pembenaran oleh teman-temannya yang lain.

Hampir seluruh siswa di kelas tidak suka dengan perilaku Dodo. Di mata teman-temannya Dodo sangat menyebalkan, suka mengganggu dan tidak sopan. Mungkin itu yang membuat ia tak punya teman dekat.

Saya pun sebagai guru awalnya sangat sebal melihat perilaku anak yang satu ini. Saya berusaha tidak ikut-ikutan melabelinya sebagai siswa nakal.

Pernah suatu ketika ia mengganggu siswa yang sedang bermain.

"Aku gak bakal ganggu lagi asalkan harus ada satu orang yang aku pukul," ujarnya.

Arrghh.. Kesabaran saya sangat diuji saat itu. Saya mencoba dengan lembut untuk memintanya berhenti mengganggu. Akan tetapi sia-sia. 

Namun ada satu hal yang unik darinya. Meskipun Dodo selalu mengganggu temannya ketika di kelas, bahkan sampai ditegur oleh saya berkali-kali. Tapi setiap jam pulang sekolah, ketika teman-temannya sudah tidak di kelas, Dodo selalu membantu saya merapikan kelas, serta bertukar cerita dengan saya. Ia seperti sosok berbeda saat tidak ada teman-temannya yang lain.

Setelah satu tahun membersamai Dodo, pada dasarnya saya perhatikan ia anak yang sangat sopan serta perhatian. Hanya saja ada sisi lain dari dirinya yang ingin jadi pusat perhatian dan jadi sorotan. Saya rasa ini bisa jadi potensi baik asal selalu diarahkan. 

Dari cerita Dodo kita sama-sama belajar bahwa kadang kita hanya melihat dari satu sudut pandang tanpa melihat kelebihan yang ada pada diri anak. Mungkin anak berulah karna ia ingin diperhatikan atau karena hal lain. Mungkin anak-anak seperti Dodo akan jadi orang-orang berpengaruh nantinya.

Sebagai guru dan orangtua kita harus terus mengarahkan dan mendoakan serta terus belajar memperbaiki pribadi kita juga tentunya yang akan jadi teladan bagi mereka.

Wallahu'alam..

(Dodo bukan nama asli si anak ^,^)

Selasa, 26 Juni 2018

Yuk! Coba Mengkritik Diri

Juni 26, 2018 6 Comments
Aku perhatiin kamu berubah semenjak menikah.
Kritik adalah masalah penganalisaan dan pengevaluasian sesuatu dengan tujuan untuk meningkatkan pemahaman, memperluas apresiasi, atau membantu memperbaiki pekerjaan. (Wikipedia)

(source:dreamstime.com)
Bagi sebagian orang mungkin kritik adalah sesuatu yang ingin dihindari, begitu juga saya. Tapi tidak bisa dipungkiri bahwa jika ingin menjadi pribadi yang lebih baik, kita akan butuh kritikan yang membangun.

Pengalaman saya di awal menikah banyak dapat kritik dari teman dan sahabat mungkin bisa jadi bahan cerminan untuk kita semua.

Pernikahan jadi berita yang paling membahagiakan. Membuat saya ingin memposting segala hal tentang kehidupan setelah menikah yang benar-benar berbeda. Dengan segala kealay-an yang saya miliki, postingan instagram pun dipenuhi momen-momen romantis kami berdua #ciee. Mulai dari menyiapkan sarapan untuk suami, hangout bareng, ngedate, sampai liburan ke luar kota.

Awalnya niat saya sih supaya para jomblo di luar sana ketika lihat setiap postingan itu jadi makin semangat ikhtiar mencari sang jodoh. Tapi apa daya saya yang hanya manusia biasa ini, ternyata banyak hati yang terluka di luar sana 😢. Kekhilafan ini saya ketahui ketika salah satu sahabat chat pribadi ke saya.

Saya paham betul niatan baik sang sahabat yang ingin mengingatkan saya. Dengan bahasa yang lembut namun nyeess di hati, periih cuy, saya berusaha memahami dan berpikir positif. Mungkin penyakit yang selalu ingin umbar kebahagiaan ini harus segera diobati. Iyadeh gue salah.

Bersyukur Allah masih membukakan hati ini untuk menerima kritik pedas dari para sahabat. Ya meskipun lebih banyak ngomel di dalam hati tapi sebisa mungkin saya kembali menyadarkan diri. Terimakasih banyak deh buat kritiknya.

Sejak saat itu saya mulai mikir-mikir dulu sebelum posting di IG. Kira-kira ini layak gak ya? Ada faedahnya gak ya? Ada yang sakit hati gak ya? Posting apa enggak nih? Walopun kadang-kadang juga masih sering khilaf. 

Hingga suatu ketika saya dapat kabar gembira dari sang sahabat. Yeay.. berita pernikahan lagi. Sekali dua kali melihat kebahagiaan pasangan baru itu via sosmed membuat saya ikut senang. Tapi lama kelamaan kok eneg ya?

Emang sih beliau ini nggak umbar foto mesra. Tapi capture chat manis beserta segala caption dan  isi tulisannya yang aduhaaaii membuat saya berpikir "penting ya dunia harus tau hidup lo?", "emangnya lo doang yang punya suami?" , "emangnya dunia harus tau kalo lo lagi kangen sama tuh suami?".

Saya juga sempat mikir kalo nih orang cuma bisa kritik doang, tapi ketika dia yang mengalami sendiri bahagianya  menikah ternyata dia juga gak tahan buat mengumbar kemesraan. Sempat sebel banget sama dia yang luar biasa mengkritik saya dulu.

Tapi, Astaghfirullah...
Mungkin seperti inilah yang orang-orang pikir tentang postingan foto-foto saya dan suami dulu.  Mungkin mereka juga merasa postingan saya hanya spam yang membuat penuh beranda. Ternyata saya sudah menyakiti banyak hati. Merasa bersalah terutama pada si sahabat tadi.

Kecenderungan untuk berbagi kabar gembira memang manusiawi. Tapi akan lebih baik lagi jika kita lebih bijak dalam mengorganisir apa saja hal-hal yang perlu dibagikan. Pikirkan lagi apakah akan membawa banyak manfaat atau tidak.

Saya juga masih terus belajar agar lebih bijak menggunakan media sosial. Berusaha untuk menata hati agar tidak ada rasa hasad ketika melihat postingan kabar bahagia orang lain. Mencoba untuk mengkritik diri sendiri demi menjadi pribadi yang lebih baik.

Semoga bermanfaat....

Rabu, 03 Januari 2018

Via Selalu Sayang Papa, Walaupun Papa....

Januari 03, 2018 0 Comments
"Mama sama papa Via sekarang udah pisah, bu."

Dengan polosnya anak ini berbisik ke telinga saya. Senyum kecil menggemaskan di wajahnya masih jelas terlihat. Saya yang heran, bagaimana bisa Via sedari pagi ini bersikap seperti tidak ada masalah. Apakah karena baru berumur 10 tahun jadi dia belum mengerti? Atau memang karena dia begitu tegar?

Via memang anak yang periang. Selalu jadi moodmaker di kelas. Selama menjadi gurunya, saya belum pernah melihat wajah murung Via. Kulitnya putih, wajahnya mungil menggemaskan. Terkadang saya berfikir ingin menculiknya dan dijadikan mainan di rumah.

"Papa selingkuh, bu."
"Kata mama, dulu waktu Via masih bayi, papa juga pernah selingkuh. Jadinya mama nggak percaya lagi."

Via mencoba menceritakan kronologi perceraian orangtuanya dengan santai. Tapi melihat ke dalam matanya, saya tahu ada air mata tertahan di sana.

"Via nggak sedih? Ibu boleh tau nggak gimana perasaan Via sekarang?"

Via terdiam sejenak. Mungkin sedang memikirkan bagaimana dia harus mengutarakan isi hatinya.

"Mm.. Sedihlah bu," Via menunduk.

"Eh, jangan nangis dong. Sini ibu peluk."

Saya kira Via akan menangis dipelukan saya. Tetapi justru tawa kecilnya terdengar saat dalam dekapan saya.

"Kok Via ketawa?"

"Ibu sihh bilang Via nangis. Via kan nggak nangis. Malu kalau nangis di sekolah bu. Via kan nggak cengeng."

Anak ini masih bisa-bisanya bercanda. Dari mana dia temukan kekuatan sebesar ini?

"Jadi gimana rasa sayang Via ke papa? Masih sayang atau sudah berkurang?"

"Via masih sayang sekali sama papa, bu. Kan mama yang punya masalah sama papa, bukan Via. Jadi Via masih sayang papa."

Allah.. Hati saya bergetar mendengar jawaban anak ini. Bukannya Via, justru saya yang ingin menangis saat ini. 

"Walaupun mama sering bilang papa jahat. Tapi Via tetap sayang papa."

"Via pernah lihat mama sama papa berantem?" saya bertanya penasaran.

"Nggak, bu. Tapi sering dengar aja," lagi-lagi dia tertawa kecil.

"Jadi, sekarang gimana cara Via menghadapi masalah Via?" 

"Hmm.. Via berdoa sama Allah,bu. Supaya mama sama papa baikan lagi. Kan Allah Maha Mengabulkan," Via menjawab dengan senyuman manisnya.

"Jadi, Via minta tolongnya sama Allah ya nak?"

"Iya bu, kan nggak ada yang bisa nolong Via kalau bukan Allah."

Masya Allah... Jawaban yang luar biasa karena keluar dari lisan anak 10 tahun.


Bagaimana dia bisa begitu tulus mencintai ketika hatinya sudah terlukai oleh pengkhianatan sang ayah?
Bagaimana bisa kata sayang yang begitu dalam masih dia utarakan meski sang ibu tanpa sadar berusaha mewariskan kebencian?

Apa jadinya jika bukan Via? 
Apa yang terjadi pada anak-anak lain yang bernasib sama dengan Via?
Ketika sang ibu mulai bergerilya mengatakan hal-hal buruk tentang ayah. Mungkin mereka akan segera membenci ayahnya. 
Ketika petengkaran ayah dan ibu sudah menjadi konsumsi telinga anak-anak. Alangkah menderitanya batin mereka.

Wahai ayah dan bunda... 
Mungkin kita marah. Mungkin kita benci. Mungkin kita begitu kecewa. Tetapi ingatlah, ada hati yang harus kita jaga. Hati si kecil yang rapuh. Mereka belum paham, tetapi terpaksa paham. 

Rasa cinta suami istri mungkin bisa hilang.
Setiap pasangan bisa saja berpisah dan berujung cerai.
Namun tidak ada yang bisa memutus hubungan antara orang tua dan anak. Kita tidak berhak merusaknya. Karenanya, biarkan kenangan indah yang dimiliki anak-anak tentang ayah dan bundanya tetap tersimpan di benak mereka.

                                                                                                                    (cerita di awal Maret 2017)
*nama disamarkan

Minggu, 17 Januari 2016

Lelah?

Januari 17, 2016 0 Comments
"Pernah nggak kamu ngerasa lelah dengan hidup, ndah? Aku rindu dipeluk bapak. Kadang aku berpikir kalo masih ada bapak mungkin hidup nggak akan seberat ini. Ibu nyari uang sendiri, abang yang aku harapkan nggak bisa bantu kami apa-apa. Dia salah ngambil jalan hidup. Ternyata aku salah berharap banyak dari dia untuk gantikan posisi bapak. Aku harus kerja keras. Aku sudah usaha jualan kue tapi hasilnya nihil, konter cuma bisa memenuhi kebutuhan aku sendiri, dan sampe sekarang aku belum dapet kerja tetap. Aku sedih lihat ibu harus jualan bahkan saat sakit. Aku berusaha untuk ngggak ngeluh tapi keadaan tak kunjung membaik. Aku nggak kuat nahan ini sendiri , ndah"

Kurang lebih seperti itu pesan masuk di Blackberry Messenger-ku malam ini.
Allah...
Satu hal yang seketika aku simpulkan saat itu, betapa tegarnya saudari muslimahku satu ini. Dialah manusia terpilih yang Allah beri cobaan begitu indah. Allah beri jalan yang tampaknya berduri namun itulah jalan pintas yang Allah sengaja buatkan agar saudariku ini semakin dekat dengan-Nya.

Lelah? Ya, kita semua pasti pernah merasakannya. Disaat beban di pundak semakin berat, membuat kita goyah dan bertanya-tanya : "mengapa harus aku ya Allah?" Di situlah iman diuji. Seberapa dekat kita dengan-Nya selama ini. Dan lihat sekeliling kita, ada banyak yang mendapat ujian jauh lebih berat.

Bukan tentang seberapa berat cobaan yang kita terima. Akan tetapi bagaimana keteguhan kita menghadapi apa-apa yang bisa merobohkan pertahanan kita. Bagaimana  kita berusaha bangkit, berdiri bertumpu pada kedua kaki sendiri dan berserah diri kepada-Nya. Dan percayalah bahwa Allah telah memilih kita, karena Dia tahu siapa yang mampu menghadapinya. Ya, kita mampu saudariku.

Sabtu, 16 Januari 2016

Mengapa Allah Tidak Menghukumku?

Januari 16, 2016 0 Comments
Seperti ditampar. Itulah perasaan ketika mendengar materi kajian sore ini. Aku benar-benar terbangun dari hibernasiku beberapa tahun belakangan ini. Aku ingat terakhir kali aku terisak seperti ini yaitu saat semester tiga bangku kuliah, ketika hasrat hijrahku menggebu-gebu.

"Aku telah melakukan banyak kesalahan, mengapa Allah tidak menghukumku?" Pertanyaan besar di kepalaku dan sore ini aku dapatkan jawabannya.

***
Aku mulai merasa biasa ketika menunda shalat. Mulai terbiasa meninggalkan dhuha dan qiyamul lail. Empatiku mulai berkurang saat melihat orang yang membutuhkan. Lisanku makin sulit dikendalikan. Puasa sunah? Sudah tidak pernah. Ah. Aku rasa kerudung lebarku hanya topeng.



Dengan semua kekhilafanku itu, aku tidak pernah merasa bahwa Allah memberiku hukuman. Aku masih bisa tertawa dengan teman-temanku tanpa masalah. Studiku baru saja selesai. Justru aku merasa semua urusanku telah dipermudah-Nya.

Akan tetapi kajian sore ini menyadarkanku. Bahwa tidak ada hukuman yang lebih berat bagi hamba daripada mengerasnya hati dan jauh dari Allah. Ketika hati mengeras maka air matapun mengering.

Ternyata ketika aku merasa biasa saja meninggalkan amalan baik, itulah hukuman bagiku. Begitu lalainya aku menjaga hidayah yang telah Allah berikan. Padahal Allah memberi hidayah hanya pada orang-orang yang Dia kehendaki.

Sore ini juga aku menyadari betapa besar cinta Sang Ilahi. Dia mengirimkan saudari-saudariku dalam agenda kajian sore ini untuk mengingatkanku kembali.

Saudariku, semoga cerita ini bisa menjadi cermin bagi kita semua untuk selalu memperbaiki diri setiap harinya. Insya Allah.

Jumat, 25 September 2015

Hijrahmu Menguatkanku

September 25, 2015 1 Comments
Lagi-lagi ponsel hitam ini mengganggu hari bermalas-malasanku. Meski baru pukul 10 pagi tapi kantuk ini benar-benar membuatku meninggalkan semua pekerjaan yang harusnya diselesaikan sesegera mungkin. Bunyi ponsel hitam yang berulang-ulang ternyata adalah chat dari teman lamaku. Ya, teman lama yang pernah aku ceritakan sebelumnya. Kini dia sudah mulai hijrah agar semakin dekat dengan Allah, Rabb sekalian alam.  

"Indah, lagi sibukkah?", pertanyaan yang selalu aku baca di awal percakapan online kami. Jelas aku sedang tidak ada kesibukkan apapun. Seperti yang sudah kuduga, dia akan membalas dengan chat yang panjang berisi curahan hatinya:
"Ndah, aku sudah mantap ingin berhijrah, berjilbab syar'i dan tidak pacaran. Aku selalu berusaha menguatkan hati, akan tetapi keluargaku tidak begitu mendukung keputusanku, ndah. Kakak dan Ibuku bilang nanti akan sulit dapat pekerjaan kalau jilbabnya seperti itu. Kakakku juga bilang akan sulit untuk mendapat jodoh, laki-laki akan takut mendekat, dan mungkin tidak melirik karena dandananku yang seperti ini. Bagaimana ini ndah? Cobaan ini benar-benar berat."

Allah... Membaca pesan dari temanku ini adalah tamparan untukku. Proses hijrah kami benar-benar berbeda. Akan tetapi aku yang dengan mudahnya mendapat dukungan dari keluargaku tidak pernah bersyukur. Aku justru kufur dengan cara bermalas-malasan, aku kufur karena begitu berat melangkahkan kaki ke majelis-majelis ilmu. Sementara di tempat lain, saudariku begitu haus akan ilmu, saudari muslimahku berjuang untuk mendapat dukungan penuh keluarga dalam proses hijrahnya. Astaghfirullah.

Saudariku yang sedang berjuang... Kuatkanlah hatimu. Hijrah bukan proses yang singkat, akan tetapi hijrah adalah proses panjang, lelah tetapi membahagiakan. Aku tahu sekarang orangtuamu belum mendukung keputusanmu. Maka dari itu tunjukkan sedikit demi sedikit buah dari hijrahmu, tunjukkan bahwa hijrah ini membuat dirimu menjadi lebih baik, semakin berbakti pada orang tua dan jadi teladan bagi lingkunganmu. Aku di sini juga sedang berproses sepertimu, dan aku tidak lebih baik darimu. 


Jangan khawatir susah mendapat pekerjaan, karena sesungguhnya rezeki itu datang dari Allah. Tiap-tiap hamba sudah memiliki jatah rezekinya masing-masing, tinggal kita yang harus menjemputnya dengan usaha dan doa. Jika sulit mencari lapangan pekerjaan maka kitalah yang coba membukanya, mungkin bisa dengan berwirausaha. Karena Rasulullah saw pun adalah seorang pengusaha, tidak ada salahnya mencoba.

Saudariku...tentang jodoh juga jangan pernah kau khawatirkan. Allah sudah menyiapkan lelaki itu untukmu. Sekarang tinggal memilih mau disatukan melalui jalan yang ditentukan atau di luar jalan Allah. Lelaki yang baik pasti tidak akan melirik dan memilih sembarangan wanita, tentunya dia juga akan mencari wanita yang baik pula. Maka dari itu perbaiki diri kita terlebih dahulu, bergaul dengan lingkungan yang baik berdoa kepada Allah agar diberikan jodoh seorang yang shaleh. Insya Alah

Terimakasih saudariku, proses hijrahmu justru menguatkan aku, membuat semangatku kembali membuncah untuk mengejar ridho Allah sang pemilik cinta.

Kamis, 17 September 2015

Refleksi

September 17, 2015 0 Comments
Siang ini masih berkabut, bertepatan dengan tanggal 4 Dzulhijjah 1436 Hijriah. Enam hari lagi Idul Adha akan tiba. Rasanya takbir Idul Fitri yang lalu belum hilang ngiangnya di telingaku. Ahh.. Cepat sekali waktu berputar.

Begitulah hari berjalan, hingga sampai tiba saatnya nanti Allah akan mengambil kembali ruh dalam diri kita. Membuat kita meninggalkan apa-apa yang kita cintai di dunia. Ayah, Ibu, Suami atau Istri, adik dan kakak, teman, sahabat, harta, tahta, jabatan, dan semuanya. Seperti firman Allah dalam surah Al-'Ankabut:

"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan." (Q.S Al-'Ankabut: 57)

Lalu, apa yang sudah kita persiapkan untuk menyambut kematian? Sudah cukupkah amalan kita? Sudah siapkah kita ? Apa yang sudah kita berikan untuk kedua orang tua kita? Apakah kita sudah memberikan manfaat untuk orang-orang di sekitar kita ?

Ya memang, manusia tempatnya salah dan dosa. Tapi bukan lantas kita putus asa untuk berbuat kebaikan, putus asa untuk beribadah. 

Sahabat, mari kita perbaiki kembali apa-apa perbuatan kita yang selama ini melenceng dari jalur-Nya. Karena kita tidak tahu kapan kematian itu akan datang. Entah aku atau kamu yang akan dipanggil lebih dahulu. Yang terpenting selalu berusaha memperbaiki diri setiap harinya. Karena setiap proses perbaikan diri kita mempunyai nilai tersendiri di mata Allah SWT.

Jumat, 26 Desember 2014

Pancake Durian Barokah

Desember 26, 2014 0 Comments
                Jono. Panggil saja begitu. Seorang teman yang cerdas, memiliki percaya diri tinggi, juga pekerja keras. Di sisi lain, Jono sangat buruk dalam hal ibadah. Ia juga dikenal pelit oleh teman-teman lain. Kata-katanya juga sangat sering menyayat hati orang lain.Lidahnya seperti samurai. Mungkin hanya aku yang tidak pernah tersinggung dengan perkataan Jono. Ya, aku mengertilah bagaimana menghadapi manusia seperti itu.
            Pagi itu gedung fakultas mulai ramai, aku dan teman-teman duduk-duduk di pelataran. Pelataran gedung tentunya. Dari kejauhan aku mengamati sosok laki-laki paruh baya, berjalan menjajakan dagangannya kepada para mahasiswa. Dengan jalannya yang sedikit (maaf) pincang, laki-laki itu membawa tas dan memegang tiga kemasan pancake durian. Tiap satu kemasan berisi dua pancake dengan harga sepuluh ribu perak.
Aku tersenyum dalam hati. Hari ini Allah kembali mengingatkanku untuk selalu bersyukur dan tidak berputus asa. Bapak itu dengan kondisinya, masih mau berusaha mencari nafkah halal dengan berjualan pancake durian. Maka sudah seharusnya aku yang masih muda dan bugar bisa melakukan lebih dari itu.
Hingga sampailah sang bapak menjajakan padaku dan teman-teman. “Pancakenya, nak ?” Bapak itu menawarkan pada kami. Aku menggelengkan kepala. Begitupun teman-temanku. Aku sedang tidak punya uang pecahan sepuluh ribu dan sedang program penghematan uang jajan. Aku pikir untuk membeli pancake itu lain kali saja.
Kami duduk di pelataran cukup lama. Membunuh waktu dengan lawakan-lawakan tidak penting. Sepertinya matahari sudah meninggi. Jono baru datang untuk bergabung dengan kegilaan kami. Tawa menyatu. Tiba-tiba, seorang laki-laki paruh baya menawarkan dagangannya. “Pancakenya, nak?” Oh, bapak yang tadi. Mungkin bapak itu lupa bahwa tadi dia sudah menawarkan pada kami. Aku lagi-lagi menggeleng.
“Berapa satu bungkusnya, pak?” Jono bertanya. Mungkin dia lapar. “Sepuluh ribu, nak” Jawab bapak dengan senyumnya. Dan akhirnya Jono membeli pancake durian itu. Jono menawarkan pancake manis itu pada kami. Aku kira hanya basa basi. Tapi anehnya, kali ini Jono membiarkan kami menghabiskan pancake itu tanpa ia makan sedikitpun. Sangat tidak biasa. “Kenapa kamu tidak makan, Jon?” tanyaku penasaran. “ Aku tidak suka durian” jawab Jono singkat. “Lah, kenapa dibeli?” tanyaku kembali. “Kasihan aja” Jono menjawab dengan lebih singkat.
“Ohh” Hanya itu kata yang sanggup aku ucapkan saat itu. Malu. Sangat malu pada diri sendiri. Aku dengan kerudung lebar ini tidak tergerak hatinya untuk membantu bapak itu. Aku yang katanya aktivis dakwah kampus, tidak tergerak hatinya untuk membeli satu bungkus saja pancake itu hanya karena alasan tidak punya uang pecahan sepuluh ribu. Sementara Jono yang terkenal pelit seantero kampus, dia mau mengeluarkan uangnya untuk meringankan beban bapak itu. Aku begitu memalukan.
Selama ini kita manusia hanya bisa menghitung keburukan orang lain. Mungkin karena keburukan orang lain itu terlalu sedikit sehingga dapat dengan mudah dihitung. Akan tetapi kita selalu kesulitan menghitung keburukan diri sendiri. Mungkin juga karena keburukan kita yang terlalu banyak sehingga sulit untuk dihitung. Walaupun dengan mesin penghitung tercanggih.
Kita dapat dengan mudah menilai seseorang dari hasil perhitungan tentang keburukan tadi sehingga didapatlah skor nilai yang sangat rendah tentang kepribadian seseorang tersebut. Padahal data-data yang kita peroleh untuk perhitungan kepribadian itu tidak akurat.
Seperti cerita Jono, mungkin diri kita tidak jauh lebih baik daripada orang yang sering kita cemooh. Mungkin saja hati mereka lebih mulia. Hanya karena satu dua kali kita melihat mereka melakukan kesalahan, belum berarti mereka buruk. Mari lihat diri kita lebih dalam agar tahu mana bagian yang perlu diperbaiki.

Lihatlah betapa indah kasih sayang Allah. Pancake durian pun bisa menjadi jalan menuju perbaikan diri. Semoga Allah selalu mengingatkan kita meski dengan hal sekecil apapun. Insya Allah.

Kamis, 11 Desember 2014

Jangan Malu, Mulailah !

Desember 11, 2014 0 Comments
Malam itu ditengah keromantisanku bersama tugas kuliah terdengar nada dering BlackBerry Messenger dari ponsel hitam di atas meja. Ahh… ada saja pengganggu kemesraan kami. Tidak bisakah kalian membiarkan aku berduaan sebentar saja dengan tugas kuliahku ? Setidaknya dengan begitu kami bisa memperbaiki  hubungan kami yang sempat renggang karena aku tinggalkan.

Tapi aku pikir mungkin ada hal penting sehingga ponsel itu berbunyi. Walaupun sempat tidak aku hiraukan beberaapa saat akhirnya juga harus aku baca pesan di ponsel itu. Dan ternyata pesan itu dari teman lamaku. Isi pesan yang membuat aku menguatkan hati untuk membalasnya: Indah, aku dengar kamu sudah berjilbab syar’i ya sekarang ?

Aku terdiam sejenak. Aku memang sedang berusaha untuk memperbaiki diri, belajar untuk berjilbab syar’i yang merupakan kewajiban setiap wanita muslim. Tapi pantaskah aku menjawab “iya” ? Sementara aku rasa diri ini masih jauh dari kata baik.

Meski demikian, pada akhirnya akupun tetap harus menjawab “iya”. Dan alhamdulilah jawabanku membawa angin segar. Ternyata pertanyaan temanku muncul karena dia juga ingin sepertiku. Tentu saja aku dengan senang hati mengajaknya se-segera mungkin menuju perubahan itu. Dan yang aku bisa hanya mencoba menguatkan niat temanku untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Perbincangan kami via BBM pun semakin dalam, hingga sampailah pada sebuah pesan darinya: Iya ndah, aku memang ingin berubah menjadi lebih baik, sesekali aku juga sudah mulai belajar berkerudung lebar seperti kamu, tetapi masa laluku membuat aku merasa tidak pantas, aku pernah melakukan dosa besar, apa aku pantas memakai kerudung lebar dan syar’i ? Terlebih lagi saat aku mendengar omongan tetangga, aku dibilang sok alim padahal dulunya gak jelas. Aku malu mendengar omongan-omongan mereka. Itu yang membuat aku ragu ndah.

Membaca pesan itu seketika aku teringat saat pertama kali aku mengenakan kerudung lebar ini. Pikiran yang sama sepertiku dulu, butuh waktu lama untukku memantapkan hati.

Wahai sahabat, mungkin kita memang mempunyai masa lalu yang memalukan, masa lalu yang  buruk. Tetapi itu hanyalah masa lalu, kita tidak akan bisa kembali ke masa itu bahkan jika kita mengejarnya dengan jet berkecepatan tinggi sekalipun kita tetap tidak akan bisa menyusulnya. Karena dia terus berlari menjauh dan hanya meninggalkan jejak. Jejak-jejak  itu ada yang bisa terhapus oleh waktu dan ada juga yang tidak. Dan jejak yang tidak bisa terhapus itu mungkin karena pijakan yang terlalu kuat.

Mungkin masa lalu kita meninggalkan jejak buruk yang sulit dihapus dari ingatan orang lain maupun ingatan kita. Yang bisa kita lakukan hanyalah menerima dan ambil hikmahnya. Toh, masa lalu itu merupakan bagian dari cerita hidup kita. Jika pernah ada kesalahan maka perbaikilah mulai hari ini, karena hari ini juga akan jadi masa lalu bagi hari esok. Mulailah buat jejak baik yang sulit untuk dilupakan orang lain.

Sahabatku, jika engkau ingin berhijab sesuai syariat maka mulailah dari sekarang. Karena berhijab sesuai syariat merupakan kewajiban setiap wanita muslim. Jangan terlalu kau pikirkan perkataan dan cacian mereka. Terserah mereka akan membicarakan apa tentang masa lalumu, setidaknya sekarang kau sedang mencoba melaksanakan kewajibanmu sebagai wanita muslim untuk berhijab sesuai aturannya. Sementara mereka yang lain sibuk mencari kekuanganmu, saat itulah engkau perbaiki kekuranganmu wahai sahabat. Jangan pernah engkau membenci mereka, karena merekalah yang membuatmu semakin tahu apa saja kekurangan dalam dirimu. Mereka yang membuatmu tahu bagian mana dari dirimu yang harus diperbaiki.

Semoga ALLAH selalu mempermudah jalan kita menuju perbaikan. Insya ALLAH…