Instagram

@indahetika19

Minggu, 25 November 2018

Punya siswa nakal ?

November 25, 2018 0 Comments

"Dia itu nakal banget bu..."

Salah seorang siswa di kelas saya melabeli temannya dengan sebutan "nakal", diiringi pembenaran oleh teman-temannya yang lain.

Hampir seluruh siswa di kelas tidak suka dengan perilaku Dodo. Di mata teman-temannya Dodo sangat menyebalkan, suka mengganggu dan tidak sopan. Mungkin itu yang membuat ia tak punya teman dekat.

Saya pun sebagai guru awalnya sangat sebal melihat perilaku anak yang satu ini. Saya berusaha tidak ikut-ikutan melabelinya sebagai siswa nakal.

Pernah suatu ketika ia mengganggu siswa yang sedang bermain.

"Aku gak bakal ganggu lagi asalkan harus ada satu orang yang aku pukul," ujarnya.

Arrghh.. Kesabaran saya sangat diuji saat itu. Saya mencoba dengan lembut untuk memintanya berhenti mengganggu. Akan tetapi sia-sia. 

Namun ada satu hal yang unik darinya. Meskipun Dodo selalu mengganggu temannya ketika di kelas, bahkan sampai ditegur oleh saya berkali-kali. Tapi setiap jam pulang sekolah, ketika teman-temannya sudah tidak di kelas, Dodo selalu membantu saya merapikan kelas, serta bertukar cerita dengan saya. Ia seperti sosok berbeda saat tidak ada teman-temannya yang lain.

Setelah satu tahun membersamai Dodo, pada dasarnya saya perhatikan ia anak yang sangat sopan serta perhatian. Hanya saja ada sisi lain dari dirinya yang ingin jadi pusat perhatian dan jadi sorotan. Saya rasa ini bisa jadi potensi baik asal selalu diarahkan. 

Dari cerita Dodo kita sama-sama belajar bahwa kadang kita hanya melihat dari satu sudut pandang tanpa melihat kelebihan yang ada pada diri anak. Mungkin anak berulah karna ia ingin diperhatikan atau karena hal lain. Mungkin anak-anak seperti Dodo akan jadi orang-orang berpengaruh nantinya.

Sebagai guru dan orangtua kita harus terus mengarahkan dan mendoakan serta terus belajar memperbaiki pribadi kita juga tentunya yang akan jadi teladan bagi mereka.

Wallahu'alam..

(Dodo bukan nama asli si anak ^,^)

Selasa, 26 Juni 2018

Yuk! Coba Mengkritik Diri

Juni 26, 2018 6 Comments
Aku perhatiin kamu berubah semenjak menikah.
Kritik adalah masalah penganalisaan dan pengevaluasian sesuatu dengan tujuan untuk meningkatkan pemahaman, memperluas apresiasi, atau membantu memperbaiki pekerjaan. (Wikipedia)

(source:dreamstime.com)
Bagi sebagian orang mungkin kritik adalah sesuatu yang ingin dihindari, begitu juga saya. Tapi tidak bisa dipungkiri bahwa jika ingin menjadi pribadi yang lebih baik, kita akan butuh kritikan yang membangun.

Pengalaman saya di awal menikah banyak dapat kritik dari teman dan sahabat mungkin bisa jadi bahan cerminan untuk kita semua.

Pernikahan jadi berita yang paling membahagiakan. Membuat saya ingin memposting segala hal tentang kehidupan setelah menikah yang benar-benar berbeda. Dengan segala kealay-an yang saya miliki, postingan instagram pun dipenuhi momen-momen romantis kami berdua #ciee. Mulai dari menyiapkan sarapan untuk suami, hangout bareng, ngedate, sampai liburan ke luar kota.

Awalnya niat saya sih supaya para jomblo di luar sana ketika lihat setiap postingan itu jadi makin semangat ikhtiar mencari sang jodoh. Tapi apa daya saya yang hanya manusia biasa ini, ternyata banyak hati yang terluka di luar sana 😢. Kekhilafan ini saya ketahui ketika salah satu sahabat chat pribadi ke saya.

Saya paham betul niatan baik sang sahabat yang ingin mengingatkan saya. Dengan bahasa yang lembut namun nyeess di hati, periih cuy, saya berusaha memahami dan berpikir positif. Mungkin penyakit yang selalu ingin umbar kebahagiaan ini harus segera diobati. Iyadeh gue salah.

Bersyukur Allah masih membukakan hati ini untuk menerima kritik pedas dari para sahabat. Ya meskipun lebih banyak ngomel di dalam hati tapi sebisa mungkin saya kembali menyadarkan diri. Terimakasih banyak deh buat kritiknya.

Sejak saat itu saya mulai mikir-mikir dulu sebelum posting di IG. Kira-kira ini layak gak ya? Ada faedahnya gak ya? Ada yang sakit hati gak ya? Posting apa enggak nih? Walopun kadang-kadang juga masih sering khilaf. 

Hingga suatu ketika saya dapat kabar gembira dari sang sahabat. Yeay.. berita pernikahan lagi. Sekali dua kali melihat kebahagiaan pasangan baru itu via sosmed membuat saya ikut senang. Tapi lama kelamaan kok eneg ya?

Emang sih beliau ini nggak umbar foto mesra. Tapi capture chat manis beserta segala caption dan  isi tulisannya yang aduhaaaii membuat saya berpikir "penting ya dunia harus tau hidup lo?", "emangnya lo doang yang punya suami?" , "emangnya dunia harus tau kalo lo lagi kangen sama tuh suami?".

Saya juga sempat mikir kalo nih orang cuma bisa kritik doang, tapi ketika dia yang mengalami sendiri bahagianya  menikah ternyata dia juga gak tahan buat mengumbar kemesraan. Sempat sebel banget sama dia yang luar biasa mengkritik saya dulu.

Tapi, Astaghfirullah...
Mungkin seperti inilah yang orang-orang pikir tentang postingan foto-foto saya dan suami dulu.  Mungkin mereka juga merasa postingan saya hanya spam yang membuat penuh beranda. Ternyata saya sudah menyakiti banyak hati. Merasa bersalah terutama pada si sahabat tadi.

Kecenderungan untuk berbagi kabar gembira memang manusiawi. Tapi akan lebih baik lagi jika kita lebih bijak dalam mengorganisir apa saja hal-hal yang perlu dibagikan. Pikirkan lagi apakah akan membawa banyak manfaat atau tidak.

Saya juga masih terus belajar agar lebih bijak menggunakan media sosial. Berusaha untuk menata hati agar tidak ada rasa hasad ketika melihat postingan kabar bahagia orang lain. Mencoba untuk mengkritik diri sendiri demi menjadi pribadi yang lebih baik.

Semoga bermanfaat....

Rabu, 03 Januari 2018

Via Selalu Sayang Papa, Walaupun Papa....

Januari 03, 2018 0 Comments
"Mama sama papa Via sekarang udah pisah, bu."

Dengan polosnya anak ini berbisik ke telinga saya. Senyum kecil menggemaskan di wajahnya masih jelas terlihat. Saya yang heran, bagaimana bisa Via sedari pagi ini bersikap seperti tidak ada masalah. Apakah karena baru berumur 10 tahun jadi dia belum mengerti? Atau memang karena dia begitu tegar?

Via memang anak yang periang. Selalu jadi moodmaker di kelas. Selama menjadi gurunya, saya belum pernah melihat wajah murung Via. Kulitnya putih, wajahnya mungil menggemaskan. Terkadang saya berfikir ingin menculiknya dan dijadikan mainan di rumah.

"Papa selingkuh, bu."
"Kata mama, dulu waktu Via masih bayi, papa juga pernah selingkuh. Jadinya mama nggak percaya lagi."

Via mencoba menceritakan kronologi perceraian orangtuanya dengan santai. Tapi melihat ke dalam matanya, saya tahu ada air mata tertahan di sana.

"Via nggak sedih? Ibu boleh tau nggak gimana perasaan Via sekarang?"

Via terdiam sejenak. Mungkin sedang memikirkan bagaimana dia harus mengutarakan isi hatinya.

"Mm.. Sedihlah bu," Via menunduk.

"Eh, jangan nangis dong. Sini ibu peluk."

Saya kira Via akan menangis dipelukan saya. Tetapi justru tawa kecilnya terdengar saat dalam dekapan saya.

"Kok Via ketawa?"

"Ibu sihh bilang Via nangis. Via kan nggak nangis. Malu kalau nangis di sekolah bu. Via kan nggak cengeng."

Anak ini masih bisa-bisanya bercanda. Dari mana dia temukan kekuatan sebesar ini?

"Jadi gimana rasa sayang Via ke papa? Masih sayang atau sudah berkurang?"

"Via masih sayang sekali sama papa, bu. Kan mama yang punya masalah sama papa, bukan Via. Jadi Via masih sayang papa."

Allah.. Hati saya bergetar mendengar jawaban anak ini. Bukannya Via, justru saya yang ingin menangis saat ini. 

"Walaupun mama sering bilang papa jahat. Tapi Via tetap sayang papa."

"Via pernah lihat mama sama papa berantem?" saya bertanya penasaran.

"Nggak, bu. Tapi sering dengar aja," lagi-lagi dia tertawa kecil.

"Jadi, sekarang gimana cara Via menghadapi masalah Via?" 

"Hmm.. Via berdoa sama Allah,bu. Supaya mama sama papa baikan lagi. Kan Allah Maha Mengabulkan," Via menjawab dengan senyuman manisnya.

"Jadi, Via minta tolongnya sama Allah ya nak?"

"Iya bu, kan nggak ada yang bisa nolong Via kalau bukan Allah."

Masya Allah... Jawaban yang luar biasa karena keluar dari lisan anak 10 tahun.


Bagaimana dia bisa begitu tulus mencintai ketika hatinya sudah terlukai oleh pengkhianatan sang ayah?
Bagaimana bisa kata sayang yang begitu dalam masih dia utarakan meski sang ibu tanpa sadar berusaha mewariskan kebencian?

Apa jadinya jika bukan Via? 
Apa yang terjadi pada anak-anak lain yang bernasib sama dengan Via?
Ketika sang ibu mulai bergerilya mengatakan hal-hal buruk tentang ayah. Mungkin mereka akan segera membenci ayahnya. 
Ketika petengkaran ayah dan ibu sudah menjadi konsumsi telinga anak-anak. Alangkah menderitanya batin mereka.

Wahai ayah dan bunda... 
Mungkin kita marah. Mungkin kita benci. Mungkin kita begitu kecewa. Tetapi ingatlah, ada hati yang harus kita jaga. Hati si kecil yang rapuh. Mereka belum paham, tetapi terpaksa paham. 

Rasa cinta suami istri mungkin bisa hilang.
Setiap pasangan bisa saja berpisah dan berujung cerai.
Namun tidak ada yang bisa memutus hubungan antara orang tua dan anak. Kita tidak berhak merusaknya. Karenanya, biarkan kenangan indah yang dimiliki anak-anak tentang ayah dan bundanya tetap tersimpan di benak mereka.

                                                                                                                    (cerita di awal Maret 2017)
*nama disamarkan

Minggu, 17 Januari 2016

Lelah?

Januari 17, 2016 0 Comments
"Pernah nggak kamu ngerasa lelah dengan hidup, ndah? Aku rindu dipeluk bapak. Kadang aku berpikir kalo masih ada bapak mungkin hidup nggak akan seberat ini. Ibu nyari uang sendiri, abang yang aku harapkan nggak bisa bantu kami apa-apa. Dia salah ngambil jalan hidup. Ternyata aku salah berharap banyak dari dia untuk gantikan posisi bapak. Aku harus kerja keras. Aku sudah usaha jualan kue tapi hasilnya nihil, konter cuma bisa memenuhi kebutuhan aku sendiri, dan sampe sekarang aku belum dapet kerja tetap. Aku sedih lihat ibu harus jualan bahkan saat sakit. Aku berusaha untuk ngggak ngeluh tapi keadaan tak kunjung membaik. Aku nggak kuat nahan ini sendiri , ndah"

Kurang lebih seperti itu pesan masuk di Blackberry Messenger-ku malam ini.
Allah...
Satu hal yang seketika aku simpulkan saat itu, betapa tegarnya saudari muslimahku satu ini. Dialah manusia terpilih yang Allah beri cobaan begitu indah. Allah beri jalan yang tampaknya berduri namun itulah jalan pintas yang Allah sengaja buatkan agar saudariku ini semakin dekat dengan-Nya.

Lelah? Ya, kita semua pasti pernah merasakannya. Disaat beban di pundak semakin berat, membuat kita goyah dan bertanya-tanya : "mengapa harus aku ya Allah?" Di situlah iman diuji. Seberapa dekat kita dengan-Nya selama ini. Dan lihat sekeliling kita, ada banyak yang mendapat ujian jauh lebih berat.

Bukan tentang seberapa berat cobaan yang kita terima. Akan tetapi bagaimana keteguhan kita menghadapi apa-apa yang bisa merobohkan pertahanan kita. Bagaimana  kita berusaha bangkit, berdiri bertumpu pada kedua kaki sendiri dan berserah diri kepada-Nya. Dan percayalah bahwa Allah telah memilih kita, karena Dia tahu siapa yang mampu menghadapinya. Ya, kita mampu saudariku.

Sabtu, 16 Januari 2016

Mengapa Allah Tidak Menghukumku?

Januari 16, 2016 0 Comments
Seperti ditampar. Itulah perasaan ketika mendengar materi kajian sore ini. Aku benar-benar terbangun dari hibernasiku beberapa tahun belakangan ini. Aku ingat terakhir kali aku terisak seperti ini yaitu saat semester tiga bangku kuliah, ketika hasrat hijrahku menggebu-gebu.

"Aku telah melakukan banyak kesalahan, mengapa Allah tidak menghukumku?" Pertanyaan besar di kepalaku dan sore ini aku dapatkan jawabannya.

***
Aku mulai merasa biasa ketika menunda shalat. Mulai terbiasa meninggalkan dhuha dan qiyamul lail. Empatiku mulai berkurang saat melihat orang yang membutuhkan. Lisanku makin sulit dikendalikan. Puasa sunah? Sudah tidak pernah. Ah. Aku rasa kerudung lebarku hanya topeng.



Dengan semua kekhilafanku itu, aku tidak pernah merasa bahwa Allah memberiku hukuman. Aku masih bisa tertawa dengan teman-temanku tanpa masalah. Studiku baru saja selesai. Justru aku merasa semua urusanku telah dipermudah-Nya.

Akan tetapi kajian sore ini menyadarkanku. Bahwa tidak ada hukuman yang lebih berat bagi hamba daripada mengerasnya hati dan jauh dari Allah. Ketika hati mengeras maka air matapun mengering.

Ternyata ketika aku merasa biasa saja meninggalkan amalan baik, itulah hukuman bagiku. Begitu lalainya aku menjaga hidayah yang telah Allah berikan. Padahal Allah memberi hidayah hanya pada orang-orang yang Dia kehendaki.

Sore ini juga aku menyadari betapa besar cinta Sang Ilahi. Dia mengirimkan saudari-saudariku dalam agenda kajian sore ini untuk mengingatkanku kembali.

Saudariku, semoga cerita ini bisa menjadi cermin bagi kita semua untuk selalu memperbaiki diri setiap harinya. Insya Allah.

Jumat, 25 September 2015

Hijrahmu Menguatkanku

September 25, 2015 1 Comments
Lagi-lagi ponsel hitam ini mengganggu hari bermalas-malasanku. Meski baru pukul 10 pagi tapi kantuk ini benar-benar membuatku meninggalkan semua pekerjaan yang harusnya diselesaikan sesegera mungkin. Bunyi ponsel hitam yang berulang-ulang ternyata adalah chat dari teman lamaku. Ya, teman lama yang pernah aku ceritakan sebelumnya. Kini dia sudah mulai hijrah agar semakin dekat dengan Allah, Rabb sekalian alam.  

"Indah, lagi sibukkah?", pertanyaan yang selalu aku baca di awal percakapan online kami. Jelas aku sedang tidak ada kesibukkan apapun. Seperti yang sudah kuduga, dia akan membalas dengan chat yang panjang berisi curahan hatinya:
"Ndah, aku sudah mantap ingin berhijrah, berjilbab syar'i dan tidak pacaran. Aku selalu berusaha menguatkan hati, akan tetapi keluargaku tidak begitu mendukung keputusanku, ndah. Kakak dan Ibuku bilang nanti akan sulit dapat pekerjaan kalau jilbabnya seperti itu. Kakakku juga bilang akan sulit untuk mendapat jodoh, laki-laki akan takut mendekat, dan mungkin tidak melirik karena dandananku yang seperti ini. Bagaimana ini ndah? Cobaan ini benar-benar berat."

Allah... Membaca pesan dari temanku ini adalah tamparan untukku. Proses hijrah kami benar-benar berbeda. Akan tetapi aku yang dengan mudahnya mendapat dukungan dari keluargaku tidak pernah bersyukur. Aku justru kufur dengan cara bermalas-malasan, aku kufur karena begitu berat melangkahkan kaki ke majelis-majelis ilmu. Sementara di tempat lain, saudariku begitu haus akan ilmu, saudari muslimahku berjuang untuk mendapat dukungan penuh keluarga dalam proses hijrahnya. Astaghfirullah.

Saudariku yang sedang berjuang... Kuatkanlah hatimu. Hijrah bukan proses yang singkat, akan tetapi hijrah adalah proses panjang, lelah tetapi membahagiakan. Aku tahu sekarang orangtuamu belum mendukung keputusanmu. Maka dari itu tunjukkan sedikit demi sedikit buah dari hijrahmu, tunjukkan bahwa hijrah ini membuat dirimu menjadi lebih baik, semakin berbakti pada orang tua dan jadi teladan bagi lingkunganmu. Aku di sini juga sedang berproses sepertimu, dan aku tidak lebih baik darimu. 


Jangan khawatir susah mendapat pekerjaan, karena sesungguhnya rezeki itu datang dari Allah. Tiap-tiap hamba sudah memiliki jatah rezekinya masing-masing, tinggal kita yang harus menjemputnya dengan usaha dan doa. Jika sulit mencari lapangan pekerjaan maka kitalah yang coba membukanya, mungkin bisa dengan berwirausaha. Karena Rasulullah saw pun adalah seorang pengusaha, tidak ada salahnya mencoba.

Saudariku...tentang jodoh juga jangan pernah kau khawatirkan. Allah sudah menyiapkan lelaki itu untukmu. Sekarang tinggal memilih mau disatukan melalui jalan yang ditentukan atau di luar jalan Allah. Lelaki yang baik pasti tidak akan melirik dan memilih sembarangan wanita, tentunya dia juga akan mencari wanita yang baik pula. Maka dari itu perbaiki diri kita terlebih dahulu, bergaul dengan lingkungan yang baik berdoa kepada Allah agar diberikan jodoh seorang yang shaleh. Insya Alah

Terimakasih saudariku, proses hijrahmu justru menguatkan aku, membuat semangatku kembali membuncah untuk mengejar ridho Allah sang pemilik cinta.

Kamis, 17 September 2015

Refleksi

September 17, 2015 0 Comments
Siang ini masih berkabut, bertepatan dengan tanggal 4 Dzulhijjah 1436 Hijriah. Enam hari lagi Idul Adha akan tiba. Rasanya takbir Idul Fitri yang lalu belum hilang ngiangnya di telingaku. Ahh.. Cepat sekali waktu berputar.

Begitulah hari berjalan, hingga sampai tiba saatnya nanti Allah akan mengambil kembali ruh dalam diri kita. Membuat kita meninggalkan apa-apa yang kita cintai di dunia. Ayah, Ibu, Suami atau Istri, adik dan kakak, teman, sahabat, harta, tahta, jabatan, dan semuanya. Seperti firman Allah dalam surah Al-'Ankabut:

"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan." (Q.S Al-'Ankabut: 57)

Lalu, apa yang sudah kita persiapkan untuk menyambut kematian? Sudah cukupkah amalan kita? Sudah siapkah kita ? Apa yang sudah kita berikan untuk kedua orang tua kita? Apakah kita sudah memberikan manfaat untuk orang-orang di sekitar kita ?

Ya memang, manusia tempatnya salah dan dosa. Tapi bukan lantas kita putus asa untuk berbuat kebaikan, putus asa untuk beribadah. 

Sahabat, mari kita perbaiki kembali apa-apa perbuatan kita yang selama ini melenceng dari jalur-Nya. Karena kita tidak tahu kapan kematian itu akan datang. Entah aku atau kamu yang akan dipanggil lebih dahulu. Yang terpenting selalu berusaha memperbaiki diri setiap harinya. Karena setiap proses perbaikan diri kita mempunyai nilai tersendiri di mata Allah SWT.